Total Tayangan Halaman

Senin, 10 November 2014

Jadi penyiar radio, unik juga...


 
2 Mei 2014 nggak cuma hari bersejarah buat Indonesia sebagai hari pendidikan tapi juga hari bersejarah dalam hidup gue Karena selain hari itu adalah hari ultah Abah gue dan juga hari pembagian hadiah lomba Artikel sains, hari itu juga hari pertama gue memasuki dunia peradioan (peradioan?? Baru denger gue, au ah gelap, pokokx yang berhubungan dengan radio2 gitu deh). Waktu itu gue masih berada di semester 2, masih unyu2 (sekarang juga masih sih J), kira2 beberapa bulan setelah gue dilantik menjadi pengurus sebuah Organisasi Islam di Kampus.

Jadi, pas hari itu gue adalah pengurus pertama di kepengurusan kemuslimahan LDK JS UNPAR periode 2014-2015 yang di amanahi sebagai MC di acara Hikmah Senja LDK JS UNPAR bekerja sama dengan RCA 101,8 FM. Dengan pemateri 1 ka Rian dan pemateri 2 ka Weny, gue masih inget banget waktu itu materinya adalah tentang “waktu”.

Karena hari itu adalah hari pertama, jadilah gue gugup tiga perempat mati (lebih dari setengah mati maksudnye -_-). Untungnya waktu itu gue cuma diamanahi sebagai MC, kalo sampe jadi pemateri bisa berabe gue, bisa2 gue langsung menjelma jadi Mamah Dedeh dadakan lagi (Mamah Dedeh???). Dan juga untungnya lagi, materinya tentang “waktu”, agak familiar gitu sama materi yang pernah gue pelajari di pondok dulu. Jadi, sedikit banyak gue bisa menyimpulkan materi hari itu di akhir acara.

Jam 16.00, atau lebih tepatnya jam 4 sore, gue dan kaka2 yang jadi pemateri harus stand by di tempat siaran radio. Awalnya gue agak kepo sama tempat siaran ini, penuh dengan alat2 sound system yang belum familiar bagi gue (maklumlah gue biasanya di depan kamera, bukan di depan sound system, wkwk). Saking keponya gue, pas ada break dari penyampaian materi, suara mikrofon satu alias suara mikrofon bagian gue nggak gue mati’in sampe full off, jadilah kedengeran sama pendengar radio kalo gue itu lagi bisik2 mendesah pas nanyain ke kaka tingkat soal operating radio ini, untungnya temen gue yang waktu itu jadi pendengar langsung sigap atas kejadian yang memalukan itu. Langsung dah gue dapat sms dari dia kalo ternyata suara bisikan gue kedengeran di radio. Hedeh, asli gue malu banget, untungnya gue jadi penyiar radio, bukan penyiar TV, jadi muka gue kagak keliatan, (*horeee).

Tapi kejadian memalukan di hari pertama gue jadi penyiar radio tidak menyurutkan semangat gue buat siaran lagi, malahan gue seneng, bagi gue jadi penyiar radio itu unik, ketika kita siaran di sebuah tempat siaran radio yang nggak seberapa besar, orang2 di luar sana bisa mendengar suara kita. Tentunya nggak sekedar suara, tapi suara penuh hikmah, suara yang penuh dengan nilai2 agama.

Uniknya jadi penyiar radio juga gue rasain pas di akhir acara ada sesi tanya jawab. Karena materi yang disampaikan adalah ilmu agama, biasanya pertanyaan yang muncul melalui via sms juga mengenai ilmu agama. Alhamdulillah, dari sesi tanya jawab sama pendengar radio ini, sedikit banyak gue bisa menjawab sesuai ilmu yang gue punya, dan itu artinya ilmu kita sudah dialirkan ke orang lain, semoga dengan pengaliran ilmu ini bisa lebih mendekatkan kita kepada ridha Illahi, AMIN J.

Alhamdulillah, sekarang gue masih aktif siaran di radio. Selain di RCA 101,8 FM gue juga pernah dijadwalin siaran di Kalteng Pos Radio. Semoga Allah selalu mengistiqomahkan hamba2Nya yang selalu berusaha berada di jalanNya, karena selain untuk mengasah speaking skill, tentunya siaran radio ini juga sarana dakwah untuk menggapai ridha Illahi.
AMIN

Thanks for reading J

(*footnote : maklumlah karena gue masih penulis amatiran, jadi susunan kepenulisan agak amberegul eh amburadul maksud gue. Kalo ada kritik saran tentang tulisan gue, dengan senang hati silakan tinggalkan komentarnya ya, insya Allah komentarnya gue urus ko’, gue beri makan juga, nggak bakal gue telantarin #lho?)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar