2
Mei 2014 nggak cuma hari bersejarah buat Indonesia sebagai hari pendidikan tapi
juga hari bersejarah dalam hidup gue Karena selain hari itu adalah hari ultah
Abah gue dan juga hari pembagian hadiah lomba Artikel sains, hari itu juga hari
pertama gue memasuki dunia peradioan (peradioan?? Baru denger gue, au ah gelap,
pokokx yang berhubungan dengan radio2 gitu deh). Waktu itu gue masih berada di
semester 2, masih unyu2 (sekarang juga masih sih J),
kira2 beberapa bulan setelah gue dilantik menjadi pengurus sebuah Organisasi
Islam di Kampus.
Jadi,
pas hari itu gue adalah pengurus pertama di kepengurusan kemuslimahan LDK JS UNPAR
periode 2014-2015 yang di amanahi sebagai MC di acara Hikmah Senja LDK JS UNPAR
bekerja sama dengan RCA 101,8 FM. Dengan pemateri 1 ka Rian dan pemateri 2 ka
Weny, gue masih inget banget waktu itu materinya adalah tentang “waktu”.
Karena
hari itu adalah hari pertama, jadilah gue gugup tiga perempat mati (lebih dari
setengah mati maksudnye -_-). Untungnya waktu itu gue cuma diamanahi sebagai
MC, kalo sampe jadi pemateri bisa berabe gue, bisa2 gue langsung menjelma jadi
Mamah Dedeh dadakan lagi (Mamah Dedeh???). Dan juga untungnya lagi, materinya
tentang “waktu”, agak familiar gitu sama materi yang pernah gue pelajari di
pondok dulu. Jadi, sedikit banyak gue bisa menyimpulkan materi hari itu di
akhir acara.
Jam
16.00, atau lebih tepatnya jam 4 sore, gue dan kaka2 yang jadi pemateri harus
stand by di tempat siaran radio. Awalnya gue agak kepo sama tempat siaran ini,
penuh dengan alat2 sound system yang belum familiar bagi gue (maklumlah gue
biasanya di depan kamera, bukan di depan sound system, wkwk). Saking keponya
gue, pas ada break dari penyampaian materi, suara mikrofon satu alias suara
mikrofon bagian gue nggak gue mati’in sampe full off, jadilah kedengeran sama
pendengar radio kalo gue itu lagi bisik2 mendesah pas nanyain ke kaka tingkat
soal operating radio ini, untungnya temen gue yang waktu itu jadi pendengar
langsung sigap atas kejadian yang memalukan itu. Langsung dah gue dapat sms
dari dia kalo ternyata suara bisikan gue kedengeran di radio. Hedeh, asli gue
malu banget, untungnya gue jadi penyiar radio, bukan penyiar TV, jadi muka gue
kagak keliatan, (*horeee).
Tapi
kejadian memalukan di hari pertama gue jadi penyiar radio tidak menyurutkan
semangat gue buat siaran lagi, malahan gue seneng, bagi gue jadi penyiar radio
itu unik, ketika kita siaran di sebuah tempat siaran radio yang nggak seberapa
besar, orang2 di luar sana bisa mendengar suara kita. Tentunya nggak sekedar
suara, tapi suara penuh hikmah, suara yang penuh dengan nilai2 agama.
Uniknya
jadi penyiar radio juga gue rasain pas di akhir acara ada sesi tanya jawab.
Karena materi yang disampaikan adalah ilmu agama, biasanya pertanyaan yang
muncul melalui via sms juga mengenai ilmu agama. Alhamdulillah, dari sesi tanya
jawab sama pendengar radio ini, sedikit banyak gue bisa menjawab sesuai ilmu
yang gue punya, dan itu artinya ilmu kita sudah dialirkan ke orang lain, semoga
dengan pengaliran ilmu ini bisa lebih mendekatkan kita kepada ridha Illahi,
AMIN J.
Alhamdulillah,
sekarang gue masih aktif siaran di radio. Selain di RCA 101,8 FM gue juga
pernah dijadwalin siaran di Kalteng Pos Radio. Semoga Allah selalu
mengistiqomahkan hamba2Nya yang selalu berusaha berada di jalanNya, karena
selain untuk mengasah speaking skill, tentunya siaran radio ini juga sarana
dakwah untuk menggapai ridha Illahi.
AMIN
Thanks for reading J
(*footnote :
maklumlah karena gue masih penulis amatiran, jadi susunan kepenulisan agak
amberegul eh amburadul maksud gue. Kalo ada kritik saran tentang tulisan gue,
dengan senang hati silakan tinggalkan komentarnya ya, insya Allah komentarnya
gue urus ko’, gue beri makan juga, nggak bakal gue telantarin #lho?)
